Kiat Menghalau Rasa Malas Demi Pendidikan Optimal Untuk Anak

Bangsa yang hebat tentunya dibangun oleh orang-orang yang kuat, sehat dan pintar! Keluarga sebagai satuan terkecil bangsa sangat punya andil untuk menyukseskan niat tersebut.

Namun sayangnya, orangtua sebagai pilar keluarga kadang punya sejuta alasan yang membuat pendidikan anak menjadi kurang optimal. Kebanyakan diantaranya punya alasan kelelahan mengurus rumah, punya adik baru, kerja di rumah atau kantor, sampai memang malas aja untuk lakukan lebih untuk edukasi anak.

Anak bergaul, ibunya pun bergaul.
Jangan sampai malah jadi ajang saling membandingkan dan sombong.
Masa depan anak masih sangat jauh untuk dituliskan dari sekarang oleh sang ibu.

Pernah ga punya pertanyaan, "kok anak saya ga seperti anak si B?"

Anak si B begitu berprestasi sedangkan anak saya segini-gini aja. Wajar banget, kok, sebagai manusia selalu bandingin diri ke atas. Iri semacam ini katanya sih, boleh, selama ... tidak membuat kita menjadi orang yang berlaku negatif. Itu salah satu resiko kebanyakan gaul, kan? Tapi jangan sampai malah bikin Kita emosional dan menyalahkan anak. Toh, kalau dilihat pasti banyakan orangtuanya yang salah, aka. malas.

Saya mau bicara pengalaman sendiri mengenal yang namanya 'pendidikan' formal pertama kalinya.

Kala itu, saya dan anak ikut suami menetap di Aachen, Jerman. Anak pertama waktu itu berusia 4 tahun dan masuk TK nol kecil. Pertama kali masuk, saya dan suami sudah dibuat terkejut, karena dilarang mengajarkan baca tulis pada anak. Belum selesai, anak kami yang tak bisa bahasa Jerman pun mereka terima dengan pengantar bahasa setempat tanpa English.  Pesan mereka, "kalau di rumah tetap pakai bahasa ibu, ya!" Mereka juga melarang keras -lagi- untuk saya ajarkan jerman pada anak. Notabene, dulu saya sudah sempat les Jerman persiapan ikut suami. Namun memang belum bisa dibilang fasih, sehingga mending ga usah ngomong sama anak daripada ngerusak hahaha (jujur yang sadis, sih. untung ga baperan!)

pesta kostum di sekolah

Singkat kata, meski bingung apa yang terjadi dengan anak di sekolah, nyatanya anak selalu pulang dalam keadaan survive, happy dan jadi pinter ngomong Jerman bak logat orang aslinya dalam waktu 3 bulan saja! Dia senang karena meski ga bisa ngomong, bahasa tubuh, dan ekspresi muka muka sang guru-guru menyenangkan dan hangat menyambutnya. Teman dan orang tua murib yang lain pun perhatian meski hanya dengan senyuman ketika bertemu. Dan lambat laun, komunikasi yang awalnya searah akan terbentuk dengan perlahan belajar bicara meski pasti banyak salah.

Kalau kurikulum? Yang saya mengerti anak diajarkan untuk bisa hidup mandiri dan bertanggungjawab atas keperluan sederhana dirinya. Setiap awal datang di pagi hari, mereka menaruh sepatu dan jaket di tempat mereka masing-masing. Makan sarapan atau snack dari rumah dan makan siang bareng dari katering yang sudah sekolah siapkan. Setelah makan, dikasih giliran untuk cuci piring dan membantu guru bereskan meja. Kebanyakan waktu adalah bermain, kalau ga di kelas, ya di lapangan luar kelas. 

gathering dengan orang tua murib satu kelas, seru piknik di hutan.
Anak bermain ketangkasan ditemani orang tuanya

Punya pengalaman demikian membuat wawasan saya akan edukasi menjadi lebih luas, tak melulu hanya akademik. Di usia-usia dini sebelum sekolah dasar, akhirnya saya simpulkan bahwa anak lebih penting untuk bisa mandiri mengenai dirinya, misalnya mandi, ganti baju, makan, sampai beres-beres kamarnya. Harapannya, ketika dia sudah mampu melakukan hal tersebut untuk dirinya, maka bisa juga meringakan beban orangtua terlebih lagi jika kemudian ada adik baru yang lebih kecil.

Urusan belajar pada akhirnya tidak melulu formal. Tapi juga informal lewat pendidikan di luar sekolah. Ternyata, ketika kita peka akan keadaan anak, ada hobi, dan bakat anak yang bisa dikembangkan di luar pendidikan formalnya. Konsep pemberian materinya pun tentu beda dengan sekolah biasa. Karena anak suka, maka pembekalan ilmu pun akan jauh lebih santai, dan menyenangkan sesuai dengan tingkat keahlian anak. Pendidikan semacam itu yang biasa disebut les. Les akan bisa mendukung kemampuan akademik anak jika memang punya prestasi sesuai les yang dilakukan.

Nah, belajar dari pengalaman tersebut, Saya kemudian punya beberapa kiat belajar untuk anak. Kebetulan, karena pengalaman 4 tahun terakhir ini keadaan kami selalu berpindah, pada akhirnya anak harus siap untuk adaptasi cepat di tempat baru. Salah satu yang mempermudah dia untuk adaptasi adalah jangan sampai kemampuan akademisnya tertinggal jauh dari kawannya.
Biarpun belum sempurna penerapannya, tapi kira-kira inilah yang ingin ditekuni setiap harinya:

Budaya membaca didukung dengan fasilitas perpustakaan yang memadai.

  1. Membiasakan baca di rumah. Ini adalah salah satu kebiasaan baik yang ditanamkan oleh sekolahnya yang terdahulu.
  2. Menyediakan waktu anak belajar secara rutin setiap hari. Pekerjaan rumah buat saya cukup membantu memberi bahasan untuk setiap harinya. Asalkan jumlah peer memadai dan tidak malah membuat stres, sebenarnya peer bisa jadi sumber bahasan kita pada hari tersebut. Kalau tak ada peer, maka saya akan ambil sumber bahasan ilmu pengetahuan dari buku-buku ensiklopedi yang saya punya di rumah.
  3. Harus menyediakan waktu main anak. Dengan bermain maka imajinasi anak akan lebih terangsang. Disusul juga waktu ngemil dan makan malam. Urusan nonton tivi memang selalu jadi belakangan, seringnya diselipkan hanya untuk akhir pekan.
  4. Memberi waktu dengan batasan kegiatan-kegiatan di luar rumah, seperti mengaji di mesjid, ekstra kurikuler di sekolah dan les keterampilan di luar sekolah. Saya memilih hanya hari tertentu demi memberikan waktu rehat dan menambah kualitas waktu untuk bonding dengan saya dan saudaranya yang lain.
Poin-poin tadi terlihat simpel banget, kan? Namun, pada kenyataannya ga mudah juga. Kalau kurang niat dan kadang timbul malas dan lelahnya. Kadang kecolongan juga karena ga maksimal menyediakan waktu melakukannya di rumah karena kerjaan nulis dan rumah tangga. Selalu berasa kehabisan waktu melakukan keempat poin tadi saat pulang sekolah hingga tidur malam. Padahal saya juga menetapkan target nilai buat si anak. Meski tidak ketat, namun harapan dia bisa nilai bagus pun selalu ada. Seberapa ukurannya tentu disesuaikan dengan keadaan keluarga dan kemampuan, minat dan bakatnya.


Anak punya minat dan bakatnya masing-masing. Orangtua tugasnya hanya mendukung supaya bakat tersebut bisa berkembang menjadi prestasi (Sumber gambar: vebma.com)

Ngobrol soal 3 hal terakhir di atas, sayang banget, kan, kalau ternyata anak punya 3 hal tadi namun tidak dikembangkan? Kadang kendalanya cuma satu aja, karena orang tuanya malas. Malas ngantar, dan malas bayar. Yang pertama itu bisa jadi karena memang sudah lelah bekerja, lelah ngurusin rumah atau lelah-lelah lain padahal si ortu masih punya waktu main hape atau nonton tivi seharian. Kasian banget, kan, anaknya?! Kalau untuk poin 2, memang mencari pendidikan bagi anak harus disesuaikan dengan kemampuan orang tua. Kalau ingin lebih, saya jadi ingat kalimat motivasi orangtua, "cari beasiswa!"

Kalau ga pengen dibilang malas, hal utama yang perlu dilakukan adalah kenali bakat dan keperluan akademik anak. Mengeluh soal nilai anak yang makin merosot bukan marah melulu tanpa dibantu. Anak suka nari, joget dan menyanyi, jangan diam saja segera salurkan supaya bisa diasah jadi profesional. Atau anak punya kemampuan berbahasa dengan unggul dan cepat, maka jangan sampai dibiarkan percuma tanpa diasah lebih lanjut.

Kalau dikasih poin, kira-kira apa sih, yang bikin orangtua jadi malas? 

  1. Tempat les akademik yang jauh dari rumah. Apalagi kalau les-lesnya banyak dan tempatnya pun saling berjauhan. 
  2. Sarana tunggu buat orangtua yang ga memadai. Lumayan makan waktu juga kalau harus cari tempat nongkrong lain. Mau di mobil? Bosenin juga.
  3. Punya adik kecil yang bakalan bosen kalau diajakin nunggu kakak kelamaan les.
  4. Anak cepet banget bosan akibatnya jadi sering pindah dari satu les ke les yang lain.
  5. Ga ada kawan buat nunggu bareng. Nunggu sendirian sih, garink banget!

Ingin anak berprestasi? Orangtua jangan malas! (sumber gambar: tellu-perkoro.blogspot.co.id)

Tapi sekarang jadi ibu ga usah pake bingung. Kalau di mall, ibu bisa belanja barang segala ada dari segala merk. Sekarang ada mall untuk edukasi anak yang diberi nama Educenter. Educenter ini bak sebuah mall yang toko-tokonya berisikan beragam tempat edukasi anak. Mulai dari pre-school untuk adik, sekolah musik, sekolah masak, sekolah seni, sampai pendukung keterampilan akademik sekolah ada di sini. Di satu tempat saja, anak bisa dapat pendidikan secara komplit sesuai minat, bakat dan kemampuannya. Pas banget dengan misi mereka 'One Stop Education For Excellence'.

Kenali bakat dan minat anak sedini mungkin supaya dapat diusahakan
secara optimal (sumber gambar: terapiotak.com)

Tidak hanya itu, orang tua pun akan mudah mengantarkan anaknya cukup di satu tempat untuk dapat manfaat pendidikan non-formal secara menyeluruh. Mau ganti-ganti kegiatan pun banyak ragam, bosen satu tinggal pilih yang lain dan semua ada di satu tempat. Belum cukup memanjakan orangtua, Educenter memberikan ruang yang cukup untuk memuaskan hati para penunggunya. Sambil menunggu anak-anak belajar, orang tua bisa ngopi santai di cafe, ngemil di restoran favorit, sampai ngajak main adik di taman bermain. Biarpun nunggu sendirian, orangtua ga akan kehabisan gaya saking menunggu dengan bahagia. Syukur-syukur malahan ketemu kawan sesama orangtua pejuang.

Sayangnya, buat yang penasaran dengan mall edukasi ini, Educenter baru ada di daerah BSD, Tangerang. Buat yang tinggal di sana dan punya anak-anak yang aktif, kreatif dan cerdas, jangan ragu untuk window shopping ke mall ini. Kalian termasuk yang beruntung yang bisa mencicipi mall lengkap penuh nuansa edukasi yang menyenangkan.

Jadi pengen punya mall serupa ini di kotamu?

Penampakan gedung Educenter BSD (sumber gambar: ecosif.com)

#educenter