[Fiksi] Alam Membawa Kebebasan!

Suatu pagi semua orang sudah bergegas dengan aktifitasnya.

Dilan menghela napas dan mengumpat dalam hati, "Selalu begini, deh! Mama pergi duluan ke kantor, Papa bahkan nyaris tak pernah kelihatan. Bosan!"

"Mau berangkat sekarang, Mas Dilan?" suara Pak Ujang, supir dan pendengar setia Dilan di mobil mengajaknya dengan halus. Pak Ujang tahu, mood Dilan setiap hari selalunya kurang ok/ Hampir tiap pagi dia uring-uringan, terlihat kesepian dan kebosanan. Kalau melihat Dilan, anak majikannya itu, dia malah sangat bersukur atas hidupnya. Anak-anaknya meski sekolah tidak bermobil namun masih tersenyum di pagi hari saat setelah sholat subuh bersama. Kesibukannya dengan keluarga Handoko memang menyita sebagian besar harinya, namun anak-anaknya bisa mengerti dan paham bahwa itu caranya memenuhi kebutuhan keluarga.

"Ehm ... sudah jam 7, ya?" Dilan balik bertanya.

"Malah sudah jam setengah 8, Mas. Nanti Mas telat lagi, loh!" seru Pak Ujang pasrah. Majikan kecilnya itu tak pernah on time sampai sekolah. Entah sudah berapa kali dia terpaksa mendatangi gurunya untuk mewakili kedua orang tua Dilan. Mereka terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Dan itu bukan Dilan.

Kali ini Pak Ujang tidak langsung mengajak Dilan ke sekolah. "Percuma juga," pikirnya, "Dilan sudah tak ada kemauan untuk datang ke sekolah. Dia terlalu sibuk dengan kemarahannya pada kedua orang tuanya. Pak Ujang bukan baru mengenal Dilan dan orang tuanya, karena itu dia tahu kalau anak itu kesepian. Dia perlu hiburan.

"Pak, kok, ga ke sekolah? Mau kemana?" tanya Dilan penasaran.

"Kita jalan-jalan aja, yuk!" ajak Pak Ujang.

"Kemana?" Dilan penasaran, "Ga mau! Aku mau ke sekolah saja."

Pak Ujang tidak mengubris rengekan Dilan. Dia sudah biasa mendengar Dilan merajuk dan manis dalam waktu yang sama. Dia bisa tahan, kok, untuk mendengar Dilan menangis meraung-raung sekalipun selama beberapa jam lamanya.

Tapi ternyata Dilan pun menurut saja, tak sesulit yang Pak Ujang bayangkan. Jangan ditanya bagaimana raut mukanya, dia diam merengut seribu basa.

Namun lama-lama, Dilan tak sanggup menahan kantuknya. Dia pun tertidur dalam goyangan halus mobil menuju sebuah tempat yang jarak tempuhnya hampir 8 jam perjalanan itu. Sampai di tempat, Dilan merasa perutnya lapar. Tentu saja, dia sudah tertidur cukup lama dan nyenyak. Entah kapan dia bisa menikmati tidur selama itu. Sejauh yang dia ingat, matanya sangat sulit terpejam di malam hari karena gundah dalam hatinya.

Namun, dia takjub bisa juga tidur selama itu.

Ini tempat apa? Desiran ombak membangunkan dirinya mengajak bermain air yang menyejukkan. Dia jadi lupa kalau belum makan. Kerang keluar dari sarangnya dan terbawa arus ombak jauh meninggalkan pantai. Ingin dia kejar sampai ke tengah. Kakinya dingin, tapi sejuk. Dia pun terduduk, tak peduli celananya kotor atau basah kena ombak. Angin pantai membuat dia tenang dan diam.

Dia cuma mau menikmati saja sejenak lupa akan kesepian dan bebannya.