Bikin Bekal Anak dan Suami, repot tapi sehat!

Waktu kecil suka bawa bekel ga ke sekolah? Saya suka, tapi berhenti entah di saat duduk di kelas berapa. Bawa minum sih, iya, Tapi makanan besar, sudah pasti memilih jajan. Uniknya, suami dan keluarganya termasuk pengiat bawa bekel setiap aktifitas. Bahkan sampai sudah kerja pun, suami masih bawa makan siang dari rumah. Alasannya sih utamanya sih, supaya hemat hehehe maklum sebagai pekerja baru pengen nabung banyak kayanya hahaha

Setelah punya 2 anak dan yang satu mulai sekolah dasar, barulah saya ngeh juga dengan yang namanya membawakan bekal anak. Memang, sedari kecil suka juga bawain minum dan makanan kecil setiap kali pergi, tapi kayanya kurang formal ;p Baru ketok palu harus bikin bekal, ya ketika anak sudah sekolah. Itupun masih makanan kecil karena makan siangnya sudah disiapkan oleh sekolah. 

Saya suka bereksperimen dengan masakan.
Ngurangin bahan-bahan aneh di luaran yang kurang bagus buat tubuh

Tambah besar dan tempat berganti, bekal anak semakin komplit karena makan siangnya pun sekarang harus membawa dari rumah. Ada kantin dimana anak bisa beli makan siang dan snack. Tapi selain mahal dan porsi besar, menunya pun relatif internasional. Misalnya saja, menu komplit bisa pasta, mie, atau kentang rebus, dikombinasi satu lauk, buah, salad, jus atau susu. Untuk Mas yang makannya masih suka lama dan belum sebanyak itu, takutnya tidak habis dan terbuang. Alhasil, ada 1 hari dia pilih bisa beli makan siang (dengan voucher yang dtitipkan ke gurunya) dan selebihnya bawa makan siang dan snack dari rumah.

Ada bosannya? Pasti!

Mas yang dominan makan nasinya, masih suka pilih-pilih menu. Ada bumbu yang sedikit lekoh (alias tajam) bisa jadi dia ga mau. Jadilah memang menunya relatif tidak berganti. Utamanya Nasi, Ayam, Timun dan Kerupuk. Ada beda sedikit bisa diganti pasta, sushi, mie atau pizza mini.


Pastanya dibikin dengan bumbu rumah yang tidak terlalu kental dan ringan. Meski ga nyambung, kerupuk tetap ada 😀

Membuat bekal anak buat Saya sebenarnya tidak sulit. Karena Mas sendiri tidak terlalu peduli bekalnya harus cantik ala bento atau tidak. Maklum, Mas termasuk yang lasak kalau bawa tas bekal. Jadilah ibunya kasih tempat yang bersisi terbagi semacam ini.

Kalau Saya rangkum poin-poin bikin bekal untuk anak-anak, sebagai berikut tipsnya:

1.     Pilih menu yang Ibu mampu menyiapkan di pagi hari. Biasanya, Saya pilih tinggal goreng atau tumis ringan. Nasi sudah dimasak baru sebelum tidur atau setelah bangun pagi. 

Saya suka nyetok ayam-ayam tepung seperti ini home made. Lebih sehat dan tanpa pengawet. Biasanya nyetok tiap mimggu dari sekilo ayam fillet. Habis ludes karena sambil digadoin hahaha

2.      Sebaiknya tidak banyak pakai merica dan cabai, kuatir akan merangsang gangguan di perut, kecuali anaknya sudah biasa dan kuat. Sempat ada momen Mas minta ganti kerupuknya dengan kentang pedas. Karena sudah biasa dan kuat, makannya jadi lebih berselera dan bekalnya pasti habis.

3.      Hindari makanan kuah. Selain kalau dimakan dingin bisa jadi kurang enak, resiko tumpah juga kalau tidak menggunakan tempat yang tertutup rapat. Maklum, kalau di sekolah, kan, tidak ada alat dan waktu buat manasin makanannya. Meski suka soto dan kuah lainnya, Mas harus sabar untuk makanan yang kering selama sekolah.

4.     Kadang ganti variasi. Kalau pas bosen, suka juga ganti menu. Menu yang dia paling tunggu adalah spesial bawa indomie goreng ke sekolah hahaha simple banget, kan!

5.     Supaya rasa tidak tercampur dan harapannya makanan masih rapi, maka pilih tempat makan yang punya sekat pemisah. Sekarang malah lebih banyak lagi modelnya.

Saya selalu bawain menu komplit meski porsi bukan WAH. Ada buah dan susu juga sebagai pelengkap.

ehm, kayanya itu semuanya tips membuat bekal dari Saya. Tapi, bukan hanya mereka yang membawa bekal.

Bapak juga termasuk yang dibekali makanan oleh ibunya.

Dulu, sih, waktu Kami masih tinggal di Aachen, Jerman, di sanalah saat pertama kali Saya mulai bawain suami bekal. Alasannya bukan karena hemat aja, tapi karena selera makanan bule yang roti, pasta atawa pizza itu kayanya kurang nendang buat perutnya. Alhasil, bapak pun bawa bekal seporsi nasi, lauk, sayur dan biasanya ditambah bala-bala dari ibunya. Menu bapak juga yang gampang, sih, kalau tidak ada sayur fresh. Ibu tinggal iris timun, tomat atau rebus sayur lain dan diberi sambal atau bumbu pecel. Makanya ibu pun nyetok sambal buat Kami di kulkas.


Bikin sambal terasi atau sambal ijo sekali banyak dan ditaruh di wadah kaca bekas makanan lain.
Cinta keluarga Cinta lingkungan juga!

Suka nanya Bapaknya gimana kebiasaan kawannya yang lain. Ternyata budaya bawa bekal ini juga dilakukan oleh kawannya yang bukan orang Indonesia. Meski ya, menu mereka ga jauh-jauh dari roti dan sanwich. Wajar sih, karena kebiasaan makan basah, komplit di piring, itu biasanya cuman sekali sehari, Ga kaya kita yang sarapan pun sering harus masuk nasi hahahaha

menu dengan tempe ini mewah banget pada tempatnya hehehe

Untuk Bapak, wadah tidak jadi masalah. Malah menurut lidahnya yang lama di Sumatera, makin bumbu tercampur makin enak. 

Jadi, gimana? Ga susah kan, bikin bekal anak dan suami. Tahu bahannya, yakin bersihnya dan habis dimakannya, dijamin keluarga dapatkan sehat dan bahagia. Bikin bekal juga mendukung untuk diet suami, jika iya, dan diet atm biar ga banyak jajan, yes! Nanti jajannya pas liburan aja hahaha Itu kenapa, Bu, kalau weekend warung ibunya tutup dulu buat refreshing yang masak dan persiapan seminggu ke depan stok frezer.

Selamat membuat bekal!