Asinan Nostalgia Setiap Buka Puasa

Ibu Saya punya ritual setiap bulan ramadan menyajikan asinan sayur setiap buka puasa. Ga takut sakit perut? Awalnya saya juga mikir begitu. Tapi beranjak besar dan memang suka sama yang namanya pedas asam dan kombinasi buah atau sayur maka jadilah saya pun bisa menikmati hidangan ini.

Kenapa kudu pas Ramadan? Ternyata asinan ini hidangan yang turun termurun dihidangkan nini pada ayah waktu kecil. Jadilah ketika ayah sudah menikahi ibu, resep ini diturunkan ke menantunya demi bisa memuaskan lidah sang anak. Uniknya, kalau engga lagi bulan ramadan, asinan ini engga laku di rumah hahaha Spesial pokoknya hanya pas ramadan adanya, hampir setiap hari. (mungkin uda bosen sebulan jedur makan ini ;p )

Ketika saya pun sudah punya dapur sendiri. Saya mulai menuliskan beberapa resep kesukaan saya di rumah dan tentunya, yang jadi kesukaan suami dari resep ibu mertua. Sst ... itu buku primbon kesayangan banget. Pokoknya kemana saya pindahan kudu jelas rimbanya. Bahkan waktu saya belum tinggal di Indonesia, itu buku ikut saya kalau liburan. Soalnya, sapa tahu bisa tambah resep pas libur. Tambah kesini, sih, itu primbon dilengkapi juga resep-resep pilihan dari mbah gugel yang sudah saya uji di dapur pribadi. Pernah suatu masa si buku ilang, nelongso banget hati ini! Saya bikin buku baru, maksudnya ngulang lagi nulis, tapi beda rasanya ma si buku pertama. Pas taunya ketemu lagi, bahagianya bukan main! hahaha

Nah, salah satu resep di buku ini adalah asinan dari nini Karawang. Ngobrol soal nini, ini salah satu yang saya kenang dari beliau. Beliau sudah meninggal dunia sejak saya masih kecil sekali. Ingatan saya pada beliau menjadi samar-samar. Namun suasana rumah aki dan nini Karawang masih saya ingat dengan baik. Setelah beliau meninggal pun, kami masih sering pergi ke sana untuk liburan menemui aki.

Singkatnya, asinan ini mungkin tambah nikmat karena memori yang ada di dalamnya. Bahkan, ayah pun bisa meracik asinannya sendiri saking hapal rasanya.

Tertarik buat mencoba?

Cara buatnya mudah banget. Buat yang tidak suka sayur mentah, maka asinan yang satu ini sudah melalui modifikasi. Soalnya, saya pun tidak membuatnya mentah. Sayurnya terdiri dari kol, toge, kacang panjang, dan timun. Selain timun, semua di rebus hingga setengah matang. Toge cukup di masukkan ke air mendidih dan tiriskan. Tujuannya semua matang supaya tahan lebih lama dari pada biasanya di suhu ruangan. Kalau saya masaknya sekitar siang jam 3, maka ketika buka puasa jam 6 sore bumbunya sudah tercampur dan enak untuk dimakan. Maklum, untuk meresapkan bumbunya perlu beberapa saat lebih lama.

Untuk kuah asinannya juga matang. Mengolah asinan ini sebenarnya gampang-gampang susah. Memastikan rasa manis, asam dan pedasnya seimbang itu susah. Kalau kemanisan nanti jadi es buah, kalau terlalu asam pun kurang sedap ... jadi sering berlatih selama 30 hari Ramadan baru dapat rasa pasnya di akhir bulan hihihi

Bahan membuat kuahnya sederhana:

Air
Cabe merah dan cabe rawit sesuai selera
Gula merah
Kacang tanah ditumbuk kasar
Asam jawa
Gula putih
Garam

Cara membuatnya sebagai berikut:


  1. Rebus air hingga mendidih. 
  2. Setelah mendidih masukkan cabe merah dan cabe rawit, gula merah, asam jawa, gula putih dan garam untuk perasa gurih.
  3. Untuk mempercepat, gula merahnya bisa diiris-iris tipis terlebih dahulu.
  4. Setelah rasa gurih, asam dan pedasnya pas, beri kacang tanah tumbuk dan aduk kembali
  5. Setelah mendidih matikan kompor.
  6. Perlu diingat, beri bumbu yang lebih "berani", alias asinnya, pedasnya dan asamnya benar-benar terasa. Karena nanti ketika dicampurkan sayuran maka akan ada tambahan air dari sayuran.
Setelah bumbu siap, maka sekarang tinggal menyajikan. Seluruh sayur yang sudah direbus, dan timun iris pun disatukan ke dalam wadah. Siram kuah yang sudah sedikit mendingin ke atas sayur dan aduk hingga rata. 

Jangan lupa untuk mencicipi asinan ini sesaat setelah dicampurkan. Jika rasanya kurang gurih dan manis sedikit saja, beri tambahan gula putih. Jika asamnya kurang, dapat ditambahkan jeruk nipis sebagai penyeimbang asam.

Sesaat sebelum disantap, sebaiknya dicoba kembali apakah rasanya ada yang kurang karena ada penambahan air dari sayur. Jika semuanya sudah pas, asinan ini cocok dimakan dengan atau tanpa nasi.

Nulis ini jadi ngiler malam-malam hihihi Tapi sayangnya saya belum nemu nih, penampakan asinan yang sudah saya buat. Mohon maaf ya, kalau fotonya harus menunggu belakangan ;)

Oiya, resep bumbu ini suka saya modifikasi juga untuk asinan buah. Buahnya tentu bisa apapun sesuai selera. Apalagi di pasar Indonesia buah-buahan untuk rujak dan asinan sangat melimpah. Tapi ada satu penambah rasa lebih spesial yang sering saya tambahkan di asinan buatan saya. Yaitu saya tambah sawi asin! Rasa asam sawi membuat rasanya lebih segar dan tekstur sawi yang crunchy pun bikin kunyahan makin mantap!

Biasanya sawi asin ini dijual dalam bentuk pakingan kedap udara. Kemarin saya sempat lihat dijual di salah satu supermarket belanja bulanan. Tertarik beli tapi nanti deh, beresin dapur dulu hihi

Tertarik mencoba? Langsung tulis buat daftar belanja besok, ya!