Kenapa Tidak Pergi Bareng Anak? Bikin Fun dan Kompak di Hati

Sebelum menjadi ibu beneran, konsep punya anak itu benar-benar absurb. Gimana engga?! Menjadi ibu tidak cukup dengan teori ideal mengasuh anak untuk dapat anak sehat, cerdas, membanggakan dan bla bla bla. Sebab semua teori tadi akan luntur sekejap dalam ingatan hanya karena anak engga mau makan atau karena hal yang sepele (engga sepele kalau ngalamin ... ) semacam itu.

Kamu mengalami hal yang sama?

Setiap hal remeh-temeh aja tentang anak bisa jadi besar dan bikin parno. Saya masih inget, loh, nari-nari kaya badut di depan anak pertama saya yang waktu itu usianya baru 7 atau 8 bulanan pas lagi belajar makan duduk di kursinya. Demi lancarnya makan, nari dan nyanyi heboh hanya supaya anaknya mau buka mulut. Berhasil? Seringnya, ga! Akhirnya stress dan takut anaknya sakit.

Ga hanya itu, anak engga mau tidur siang pun bisa Big Deal buat ibu baru pada jamannya itu. Usaha dengan ngerem diri bareng di kamar pas siang hari, tapi yang ada malah ibunya yang semakin ngantuk sedang anaknya cuma ngoceh sendiri. Lebih parahnya ketika sudah tidak disusui lagi makin susah tidurnya. Alhasil aktifitas tidur siang ini semacam buah simalakama. Kalau tidur susah, pada akhirnya tidur siang kesorean tapi kalau engga tidur, malah bisa jadi bad mood sepanjang sore ke malam hari.

Bener-bener jadi ibu menguras kesabaran... (lap ingus ... eh, keringet!)

Tapi terlepas dari semua drama kala mereka kecil itu, pada akhirnya ada cerita manis yang bisa dikenang. Kadang saya pun lupa, mungkin Kamu juga suka lupa, bahwa sebenarnya ketika kita bersama buah hati itu selama 24 jam, lebih banyak hal manisnya. Tapi seperti biasa, pengalaman yang manis-manis meski banyak bisa ketutup dengan pengalaman yang pait-pait padahal dikit.

Luangkan waktu bersama <3

Seorang teman senior pernah berkata, "Waktu bersama anak itu engga lama, jadi sebisa mungkin selalu luangkan waktu bersama."

Setuju?

Kalau anak masi piyik, alias balita, engga pake diminta biasanya malah menolak ditinggalin di rumah dengan ART atau dititip di rumah nenek. Tapi susahnya, udah besaran dikit aja dia jadi suka nolak pergi bareng kita, ortunya, kecuali kalau ada maunya. Padahal sebagai orang tua, kan, pengen juga sesekali jalan bareng santai tanpa perlu keluar urat marah dan ancaman.

Mau tahu trik-trik ngajak jalan anak-anak supaya hubungan Kita dan anak tetap kompak?
Dirangkum dari berbagai sumber dan pengalaman teman-teman yang sudah lebih senior, ini diantaranya:

1.     Biasakan dari kecil.
Ada ibu yang entah mungkin karena sudah lelah dengan kerjaan rumah atau kantor, suka meninggalkan anak-anaknya dengan orang lain di rumah. Kalau terlalu sering, jangan aneh jika pada akhirnya anak akan menemukan kenikmatan sendiri tanpa ibu di sampingnya. Justru kadang dalam keadaan terpepet tidak ada yang bisa dipercaya menitipkan anak-anak, akan membuat anak dan ibu terbiasa pergi bersama untuk banyak tujuan. Mau belanja, mau anter kakak les matematika atau mau ke rumah sakit pun, mereka terbiasa satu sama lain kompak dalam segala hal.

2.    Pilih tempat tujuan yang bisa dinikmati bersama.
Memang engga mungkin, ya, ibu bisa tenang window shopping bareng anak. Tentunya mereka sudah bosan duluan. Apalagi kalau memang di usianya yang belum punya kesukaan sama dengan si ibu. Kalau sudah begini, boleh dong, cari tempat tujuan bisa bikin semua happy, seperti nonton film bertema keluarga atau anak, makan di resto baru, atau belanja bahan makanan di supermarket. Untuk yang terakhir, siap-siap aja mereka minta jajan ya hahaha

Kehebohan saat nonton bareng film Coco

3.    Usahakan rutin ada waktu bersama.
“Biasa karena terbiasa” itu mungkin peribahasa yang tepat. Kalau tidak dibuat jadwal untuk bersama, pastinya akan susah untuk dapat waktu berkualitas sama anak. Apalagi kalau anak yang sudah abg. Kelak ibu bisa kelewatan bikin janji dengan anak karena dia sudah terlanjur punya agenda jalan dengan kawannya.

4.    Bagi-bagi waktu bersosialisasi dengan orang lain.
Namanya juga mahluk sosial, jadi wajar kalau ingin bersosialisasi lebih banyak dengan yang lain juga, misalnya sepupu, nenek kakek atau teman-teman anak yang lain. Sama dengan ibunya juga yang terkadang ingin main bareng dengan sesama ibu yang punya anak. Mengenalkan anak kita di playdate, misalnya, bisa jadi salah satu caranya. Kita dan anak bisa sama-sama punya kawan tapi berada di tempat yang sama dan bisa bertukar cerita seru masing-masing nantinya. Mengagendakan mengunjungi rumah kakek nenek, saudara atau kawan lain pun bisa jadi alternatif sosialisasi kompak satu keluarga.

Playdate sambil belajar, Ibu pun ketemu kawan

5.    Pilih kegiatan yang tidak biasa.
Bosen dengan kegiatan yang itu-itu aja? Cari variasi aktifitas yang tidak rutin di lakukan dan jadikan itu suatu kejutan. Yang paling sederhana, kemping di taman rumah, atau sepeda-sepedaan pagi keliling kompleks. Kalau mau aktifitas keluar, pergi ke lokasi car free day dan naik sepeda bebas di jalan raya atau hiking ke gunung di kota.

6.    Kasih waktu mereka sendiri juga.

Semakin nambah usia, anak pada akhirnya minta keluangan waktu untuk dirinya juga. Meski awalnya sulit dan bikin ibu parno, tapi memberi waktu luang itu sebenarnya wujud dari belajar bertanggungjawab dan mandiri juga. Selama mereka jujur dan tetap bercerita tentang kegiatannya, ibu bisa tetap tenang ada di hati mereka.


Tapi sebenarnya ada satu momen dimana anak akan merasa dekat banget dengan sang ibu. Mungkin bukan saat yang menyenangkan tapi di situlah perannya ibu penting sebagai tempat anak berlindung.
Momen itu adalah saat si anak menderita sakit.
Anak yang sedang sakit pasti akan kelihatan ada perbedaan dalam tingkah lakunya. Dia cenderung akan diam, lesu dan malas bergerak.Kalau masih berusia di bawah 2 tahun, biasanya diiringi dengan kerewelan di luar kewajaran hari-hari biasa. Ibu pun pasti akan dibuat pusing karenanya.
Gejala awal tanda penyakit menyerang yang sering dijumpai adalah demam. Meskipun sudah banyak membaca teori penanganan demam, tapi pada prakteknya suka lupa juga (itu saya hahaha).

Yuk, Kita lihat satu-satu apa yang harus dilakukan saat anak demam, diantaranya:
  1. Ukur suhu tubuh anak. Big NO, ya, menyatakan anak panas tanpa mengukurnya dengan termometer. Kasihan juga kalau anak yang tidak panas tapi diminumi obat, atau sebaliknya. Resiko overdosis atau kejang karena panas tinggi mengintai anak.
  2. Kenakan baju yang nyaman. Bukan berarti anak mengigil kedinginan, ya. Tapi memang tubuh sedang bereaksi melawan virus atau bakteri. Mengenakan baju secukupnya dan menyerap keringat adalah yang benar.
  3. Kompres dengan air hangat di daerah ketiak, leher atau paha (ada denyut nadi). Nantinya badan akan berkeringat sebagai bentuk mengeluarkan panas badan.
  4. Minum air putih atau cairan lain, seperti jus buah atau susu. Bukan minuman bersoda, ok!
  5. Pada anak batita, biasanya akan minta dikeloni dengan menyusui lebih sering. Disinilah saat ibu dibutuhkan lebih daripada orang lain.
  6. Memberinya obat penurun panas anak. Dilansir situs health.detik.com (23/4/2015), suhu badan baru dikatakan panas ketika sudah mencapai 38-38.5 derajat celcius. Saat itulah yang tepat memberikan obat panas pada anak. Jika panasnya mencapai 40 derajat celcius atau tidak berhasil memasukkan obat demam melalui mulut, maka bisa dilakukan melalui obat semacam peluru lewat dubur/anus. Menurunkan panas dengan cara ini lebih cepat meredakan demam, namun jangan lupa anak harus diberikan asupan air yang lebih banyak untuk menghindari dehidrasi.
Tempra penurun panas anak, ada 2 varian yaitu drops dan sirup

Bicara soal obat penurun panas anak, saya mempercayakannya pada Tempra Syrup, yang berasa anggur. Ketiga anak saya selalunya menolak minum obat, sehingga obat memang cara terakhir jika seluruh cara sudah dilakukan. Meminumkan obat pada mereka itu berasa mimpi buruk kudu piting kaki dan tangannya (mau anak sehat aja sampe begini ... sedih) Susah banget kalau dapat obat harus diaduk, dikocok karena ada kandungan bubuknya. Tapi dengan Tempra yang larut 100% sangat membantu dikala menuangkan obat ke sendok atau sedot ke pipet meski dalam keadaan terburu-buru. Tapi lebih penting, rasa obat yang tersamarkan lebih mudah diterima oleh anak. 
Oiya, tempra ini punya kandungan yang aman di lambung, juga untuk anak bayi. Cocoknya sih, adik bayi dikasih yang tipe drops dengan pipet. Dosisnya pun tepat sehingga tidak ada kata over atau kurang dosis.

Kala demam sudah mulai mereda pun, saya suka banget balur punggung, dada dan kaki anak-anak dengan balsem yang cocok buat anak. Anak-anak paling suka kalau disertai dengan pijit-pijitan kecil. Sentuhan halus penuh cinta akan membuat ibu dan anak makin dekat satu sama lain. Bukan hanya itu, rasa nyaman pun akan membuat proses penyembuhan pun lebih cepat lagi. Lakukan sebelum tidur dan disertai segelas air putih hangat, ehm ... bikin tidur lebih nyenyak!

Mau dekat dengan anak ternyata engga perlu susah, kan? Hanya sisihkan waktu untuk kasih perhatian 100%, maka dekat dengan anak pun bukan lagi impian.

Happy bonding Ibu!


*****
Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra