Tahu Campur, Rasanya Bikin Nagih!

Menginjakan kaki untuk memasak di dapur, selain mie instan, kala sudah menikah. Apakah ada yang berpengalaman sama?

Ternyata memang benar, ya, mau setinggi apapun jalur pendidikan ataupun posisi pekerjaan, seorang perempuan akan baliknya juga ke dapur. Namun wajar, dong, namanya newbie jadi perlu banyak latihan. Nah, salah satu tips untuk memudahkan latihan masak kita adalah dengan cari tahu makanan favorit sang suami. Gampang banget caranya, mendekati ibu mertua, tanya dan minta resepnya. Kalau gengsi buat nanya langsung, kenali masakan apa yang kira-kira sering beliau masak di rumah, cari resep di internet dan masak. Tapi penting banget buat dicatat, seberhasil nemuin resep di internet, resep asli mertua ga akan pernah gagal. Maklum lah, sedari kecil suami makannya itu mulu 😀

Salah satu masakan yang kemudian jadi andalah saya menjamu suami dan tamu di rumah adalah Tahu Campur. Masakan khas Jawa Timur ini berbentuk lontong kuah berbumbu petis dengan isian tetelan sapi, daun selada, kentang dan tahu goreng. 

Penampakan Tahu Campur ala rumahan kami

Awal cerita Tahu Campur ini adalah jajanan yang lewat di depan rumah di sore hari. Kala suami dan kakak ipar kecil dulu, mereka senang bertanding banyak-banyakan menghabiskan Tahu Campur. Bisa 5 porsi lebih dihabiskan oleh masing-masing. Meski semangkuknya ukuran kecil, tapi kalau 5 mangkuk sudah pasti kenyang juga. Tapi anehnya, meski sudah sering makan begitu banyak, rasanya tidak pernah kapok juga menjamu lidah dengan kulineran tahu campur ini.

Mencoba pertama kali buat sebagian orang yang sensitif dengan aroma ikan bisa jadi akan kurang menyenanginya. Petis yang merupakan pemberi rasa khas berasal dari ikan atau udang dan berwarna hitam. Secara tampilan fisik pun kurang menyakinkan. Namun, soal rasa tidak diragukan. Beberapa masakan khas Jawa Timuran yang menggunakan petis, seperti rujak cingur dan tahu telor, kini menjadi masakan andalan juga di rumah.

Meski dulu sempat berdomisili jauh dari Indonesia, tak ada kata impossible untuk tetap menikmati tahu campur ini. Saat ini sudah tersedia petis berwadah botol kaca yang dapat dibawa dan tahan lama. Jika sudah dibuka, aku akan menyimpannya di dalam kulkas. Untuk isiannya memang disesuaikan dengan yang ada. Bahan daging biasanya aku gunakan kikil (kaki sapi) yang sudah direbus dengan menggunakan panci presto. Aku termasuk yang senang menggunakan presto karena lebih mudah, cepat dan hemat gas. Kikil itu aku pastikan masak sampai bisa lepas dari tulangnya, lalu diiris kecil-kecil. Jangan lupa juga menaruh beberapa lembar daun salam untuk menghilangkan bau amis kikilnya.

Sambil menunggu rebusan kikil empuk, maka bisa disiapkan bumbu halusnya. Sebenarnya tidak ada takaran yang benar-benar pas untuk ini. Aku termasuk pemasak otodidak yang akan menyesuaikan dengan keadaan lapangan. Kalau kurang bawang, misalnya, ya tinggal tambahkan di tempat supaya pas. Tapi untuk memudahkan, aku akan berikan ancer-ancer yang sekiranya cukup untuk porsi 3-4 orang.

Bumbu halusnya sangat sederhana, yaitu 5 siung bawang merah, 4 siung bawang putih, 2 buku jari kunyit dan 1 buku jari jahe. Garam, gula dan merica sesuai selera saja. Setelah dihaluskan, tumis dengan 2 sendok makan minyak goreng hingga harum.

Dipanci terpisah, rebus kurang lebih 8 gelas air hingga mendidih. Setelah mendidih, masukkan irisan kikil dan tumisan bumbu halus. Masukkan juga 3 helai daun jeruk (sobek, buang tangkai daunnya), 1 batang serai dan 1 lembar daun salam. Jangan lupa untuk dicicipi apakah sudah sesuai dengan selera. Jika belum, tambahkan garam dan gula dengan perbandingan 3:1. Jangan juga terlalu gurih, karena nanti akan ditambahkan petis di akhir. Petis yang jadi pilihanku sendiri sudah berasa gurih dan sedikit pedas. 

Untuk bahan isian sebenarnya bisa lebih fleksibel. Kalau yang asli, diberi isian lontong, kroket dari singkong, toge, daun selada dan tahu goreng. Namun, untuk versi rumahan, lontong dan kroket bisa digantikan oleh kentang. Atau bisa juga diberikan tambahan telur atau soun.


courtesy: dokumentasi pribadi dan music by http://www.orangefreesounds.com/

Jika melihat asal Tahu Campur yang dari wilayah Jawa Timur, buat aku yang menghabiskan waktu di Jawa Barat makanan ini menjadi baru. Justru masih lebih kenal dengan kuliner Jawa Tengah, seperti gudeg, lumpia semarang, wingko dan kawan-kawannya yang lain. Dengan asumsi yang sama, maka aku selalunya antusias menyajikan tahu campur ini dikala ada momen mengundang kawan dan masak di rumah. 

Dari beberapa kali jamuan makan, ternyata memang banyak yang belum paham apa itu tahu campur dan bagaimana meraciknya. Karena banyaknya bahan yang ada dalam satu mangkok, perlu diberikan aba-aba di awal bagaimana supaya rasa tahu campurnya dapet! Tapi balik lagi, karena tidak semua orang familiar dengan petis, maka sebagian besar malah menskip bagian petis ini atau hanya memakaikan sedikit saja. Rasanya koki jadi kurang puas.

Karena itu di jamuan terakhir beberapa waktu lalu, aku mencampurkan petisnya langsung ke dalam kuah. Tujuannya satu yaitu mendapatkan rasa kuah tahu campur yang sesuai. Dan tenyata hasilnya sesuai keinginan. Salah seorang kawan yang kebetulan berasal dari Jawa Timur bahkan memberikan berkomentarnya, 
"Rasanya persis seperti tahu campur di kampung!" 
Bukan main senang dan puasnya bagi tukang masak dengar pujian macam itu! 😄
Jadi berasa ingin punya buku karya sendiri tentang menu andalan rumah terbitan Hanum Publisher kalau sudah bahagianya seperti ini. Bukan begitu? 😉
Actually cooking is not a rocket science but still need practice and touch of love in it to make it happened💗
Dinikmati bersama OK, sendiri pun OK!

Klik disini untuk info lebih lanjut