Lika-liku Diet Pasca Kanker

Menghargai kesehatan setelah timbul rasa sakit adalah terlambat … namun itu masih lebih baik daripada tidak sama sekali.
Perasaan itulah yang muncul di benakku ketika orang paling dekat denganku tervonis kanker payudara di tahun 2014 silam. Orang itu adalah ibuku.
Vonis itu membangkitkan memori akan saudara sepupuku yang beberapa tahun sebelumnya menderita penyakit yang sama dan akhirnya takdir menghentikan perjuangannya. Dia meninggal dunia di usia yang masih muda dan meninggalkan 2 anak yang masih kecil.
Apa yang salah dengan mereka? Bukankah makanan sehat yang mereka makan selama ini? Apa salah aktifitas yang mereka lakukan sehari-hari? Atau mungkin genetik yang salah diberikan oleh pendahulu-pendahulu kami?
Bicara soal pendahulu, riwayat penyakit berat memang diderita kakek dan nenekku. Kakek penderita diabetes. Sepanjang ingatanku, beliau selalu menjaga makanannya. Dulunya sebelum sakit, beliau berbadan gemuk. Karena sakitnya, beliau harus menjaga makannya dengan menu diet yang cukup ketat. Makanan yang hendak dikonsumsi selalu ditimbang. Efek kebiasaan ini dapat menurunkan berat badannya. Namun terakhir sebelum beliau meninggal dunia, kerusakan hati atau sirosis menjadi penyebabnya setelah diabetes yang sudah akut merusak organ hatinya. Sedangkan nenekku meninggal dunia dengan diagnosis yang sama beberapa tahun kemudian.
Punya riwayat keluarga yang berpenyakit berat membuat keadaan menjadi lebih panik. Namun ibu bukan termasuk orang yang gampang menyerah. Segera setelah dokter menyatakan ada tumor ganas di payudaranya, tindakan operasi dilakukan. Dengan kondisi yang masih fit, operasi dapat dilakukan secepatnya. Pemulihan pasca operasi pun berlangsung kalau tidak salah hanya sebulan. Keinginan yang kuat untuk sembuh kala itu didukung dengan keinginan ibu untuk mengunjungi aku dan keluarga yang kala itu bermukim di Aachen, Jerman. 
Masa pra-operasi adalah masa membekali diri dengan penanganan tepat supaya kanker tidak menjalar kembali. Salah satu tindakan medis yang bisa dilakukan adalah kemoterapi. 
Namun, waktu itu kemoterapi bukan menjadi pilihan. Testimoni mantan pasien dan pasien kanker yang kami kenal tidak memuaskan. Ada ibu kawan yang kabur dari kemoterapi padahal baru 3x kedatangan. Beliau menyatakan tidak sanggup menjalani 6x komplit kemoterapi. Efek samping yang tak bisa ditahan jadi penyebabnya. Masih banyak komentar-komentar miring seputar kemo ini sampai akhirnya ibu pun memilih hengkang dari dokter lamanya. Karena si dokter tetap berkeras ibu tetap menjalani kemoterapi. 
Menurut pak dokter,  "Bisa jadi ada bibit kanker yang sudah menjalar, namun sulit dideteksi oleh tes yang ada sekarang. Antisipasi saja karena kuatir sudah ada penyebaran."
Jalur medis positif tidak menjadi pilihan. beberapa pengobatan alternatif herbal coba dilakukan. Selain itu ibu melakukan diet sehat guna menjaga asupan makanan pasca kanker. 
Diet seperti apa yang ibu lakukan? Apakah diet keto yang memanjakan lidah dengan asupan lemak? Atau malah sebaliknya diet mayo tanpa garam yang katanya bisa menurunkan berat badan dengan sangat cepat?
Diet ibu terinspirasi dari buku karangan Hiromi Shinya, MD yang berjudul The Miracle Of Enzyme. Buku itu adalah hadiah dari koleganya di kantor. Hiromi adalah seorang guru besar kedokteran di Amerika Serikat. Apabila kita melakukan pencarian lewat mesin pencari Google maka akan ditemukan beberapa buku lain dengan tema serupa yang juga karangan beliau. 
Memperhatikan jumlah enzim adalah kunci kesehatan. -Hiromi Shinya
Perlu digarisbawahi, jika membaca keseluruhan isi buku ada beberapa bahasan yang kontroversial. Namun demikian, keseluruhan isinya beliau dapatkan dari hasil riset dan praktek selama puluhan tahun karir kedokterannya. Bisa jadi ada buku lain yang bersebrangan dengan teori beliau.

Dari sekitar 5000 enzim yang bekerja di tubuh dikategorikan menjadi 2 macam, yaitu ada yang diproduksi di dalam tubuh dan datang dari luar tubuh. Yang datang dari luar tubuh ini masuk lewat makanan. Itu mengapa penting untuk memperhatikan enzim apa yang dihasilkan oleh makanan yang kita makan. Secara tegas beliau menolak konsumsi produk daging sapi dan susu. Menurut beliau konsumsi protein secara berlebihan justru bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Beberapa penyakit berat seperti misalnya kanker yang diderita ibu terjadi karena ketidakseimbangan enzim dalam tubuhnya. 
Berbekal pengetahuan dari buku itulah, sesaat setelah operasi ibu menyatakan dirinya  meninggalkan lauk pauk secara penuh, vegetarian, terutama daging merah. Bahkan saking ketat dietnya, beliau pun tidak menyertakan ayam maupun telur dalam menunya. Sumber protein didapat dari ikan dan produk sayuran. Produk turunan dari daging merah pun tidak dimakan. Keju, susu, yogurt sudah tidak menjadi pilihan. Demikian juga dengan olahan goreng-gorengan, beliau hindari. Berpengawet dan makanan instan tak disuplai lagi di rumah. Ukuran makanannya kala itu sangat sehat, yaitu dibuat jus, dikukus atau direbus.
Diawal, ibu masih bisa enjoy dengan pola makan barunya. Ketika mengunjungi kami ke eropa, banyak sayuran dan buah-buahan yang baru kami kenal mendukung diet sehat ibu. Misalnya saja, jenis umbi-umbian yang beragam. Ada kentang berukuran kecil, berwarna ungu atau kemerahan dan rasanya enak. Akhinya menu itu selalu menjadi cemilan ibu disepanjang perjalanan. Belum lagi berry-berrian yang menjadi buah khas sana. Berri-berrian ini hampir ada sepanjang tahun dan harganya bisa sangat murah dikala musimnya. Saking banyak dan murahnya, buah sayur itu bisa-bisa busuk tidak terbeli orang. Belum lagi kalau membandingkan harganya dengan membeli mereka di Indonesia. Karena termasuk buah-buahan impor, harganya di tanah air bisa selangit. Dengan asupan makanan yang cukup, ibu bepergian dengan kondisi fit saat itu.
Aneka Kentang

Namun sekembalinya ke tanah air, menu makanan menjadi monoton. Selain tadi harga bahan impornya sangat mahal, juga ragam menunya menjadi terbatas. Sehari-hari menu pasti konsumsinya hanya steam ikan dori dan tahu kukus, tanpa garam. Meski awal-awal terlihat enak dan bernapsu, tanpa disadari porsi makannya semakin berkurang. Ya, rasa sepertinya tidak bisa bohong.
Kalau biasanya ibu bisa masak sendiri dan sesuai lidahnya, keadaan menjadi berbeda sekarang. Keterbatasan aktifitas, diet ketat dan tidak ada rekan di dapur membuat menu tak banyak ragamnya. Alih-alih ingin sehat, kami melihat ibu semakin kurus dan kurang bertenaga.
Untungnya berselang beberapa bulan berikutnya atas saran keluarga dan juga dokter, beliau kembali mengkonsumsi lauk pauk lengkap, namun tetap tidak produk daging merah. Penggunaan perasa buatan dan produk instan sangat ibu batasi. Beliau tetap mengkuatirkan konsumsi bahan pengawet akan kurang baik bagi tubuhnya. 
Mengingat pengalaman ibu tadi tentang sulitnya menemukan ragam makanan sehat dalam dietnya, saya jadi terpikir sesuatu. Seandainya dulu kami menyediakan layanan catering sehat bagi beliau, mungkin urusan makan ini menjadi lebih mudah. Sekarang memang sudah telat. Tapi informasi ini aku simpan untuk lain waktu siapa tahu akan berguna.
Jika ditelusuri lewat media sosial penyedia layanan ini sudah beragam rupanya. Nikmatnya kemudahan di era digital, bukan begitu?
Apalagi kalau yang dicari adalah catering-catering yang melayani jasa diet untuk menurunkan berat badan. Jenis penyedia catering dengan layanan menu diet-diet terkenal lebih banyak lagi. Terutama layanan di Jakarta dan sekitarnya. 
Salah satu menu sehat mengenyangkan

So, kalau masih ada yang bilang hidup sehat itu sulit, makanan diet itu tidak enak, ribet untuk bisa masak yang menyehatkan, dan masih banyak lagi; aku bisa menjawabnya dengan mudah sekarang. Tinggal buka laptop atau hape, akses internet, angkat telepon atau bahkan chatting di Whatsup; makanan sehat bisa sampai. Tak kenal jarak, pilihan menu dan harga beragam serta peruntukan makanan pun bisa dipilih sesuai kebutuhan. 
Tunggu apa lagi?
#gorrygourmet