Hijrah Dari Tuhan Untukku

“Saliha cantik pakai Jilbab!” - Cuplikan percakapan dari buku anak yang pernah kubaca.
Andai saja sejak kecil pemahaman agama telah kudapat seperti tokoh kecil di buku ini, mungkin rasa segan berhijab tak akan pernah hinggap di diriku.
 
Suatu kota di ujung Palestina bernama Saliha. Maknanya yang berarti tempat yang baik. Apabila digambarkan kepada sosok seorang, saliha bisa berarti juga wanita yang baik. Wanita yang akan memberikan rasa senang dan aman jika mengenalnya.
Impian setiap wanita menjadi saliha, impianku  juga yang masih jauh dari predikat itu. Yang bisa  kulakukan hanya berusaha dari waktu ke waktu memperbaiki diri. Salah satunya adalah dengan cara berhijab.
Tidak terbayangkan sebelumnya akan menutup hampir seluruh anggota tubuh dari pandangan yang bukan muhrim. Risih akan merasa gerah setiap pergi keluar dengan berpakaian penuh. Namun sebuah pengalaman spiritual menampik semuanya. Hatiku tergerak untuk berhijab setelah aku mengikuti pesantren kilat saat liburan tengah semester di Bandung. Kegiatan dan materinya yang menyentuh serta didukung fasilitator yang inspiratif suksess mengugah hatiku.
Tapi saat itu, aku masih muslimah cemen. Rasa ragu dan takut masih hinggap di kalbu.

"Kun Faya Kun" (QS. Yaasiin:82)

Bagaimana tidak? 
Mengubah penampilan saat masa indah SMA hanya tersisa 6 bulan lagi. Aku ini senang berdandan dan beli baju demi datang ke pesta sweet seventeen kawan. Wajarlah kalau aku jadi ragu apa berhijab masih bisa bergaya semodis sekarang.
Belum lagi, tidak ada anggota keluarga yang berhijab kala itu, ibuku pun tidak. Jadi bagaimana bisa aku mendahului beliau? Apa orang nanti akan membandingkan tingkat kesolehan kami berdua? Yang lebih penting lagi, apakah ibu akan mengijinkan?
Seperti masih belum cukup keraguanku, berhijab saat itu artinya memakan biaya. Aku perlu membeli seragam dan perangkat baru yang hanya aku akan pakai kurang dari 6 bulan. Ya, aku sudah kelas 3 SMA semester kedua. Rumit untuk ganti penampilan sekarang. Apa perlu tunggu sampai jadi mahasiswi? Hanya sebentar lagi, lho!
Kalau terus dicari alasan untuk mengurungkan niat baik, pasti akan selalu ada. Oleh karena itu, aku beranikan diri menyampaikan hal ini pada ibu.
Diluar dugaan, ibu megijinkan. Ayah dan adik-adikku pun ok. Malah ibu menemaniku belanja dua pasang baju seragam baru berlengan dan rok panjang. Seragam batik dan olahraga aku dapat turunan dari kakak kelas yang sudah tak terpakai. Biarpun bekas masih layak pakai. Toh, hanya sebentar juga waktu pakainya.
Masih pusing omongan orang? Ternyata tidak pernah ada yang terbukti menggosip tentang kami. Ibu pun mulai menggunakan hijab di waktu tertentu, sampai kemudian mengenakannya secara total. Malahan di kemudian hari ibu menjadi stylish hijabku nomor satu disetiap acara penting kami. Mau tetap modis pun bukan menjadi masalah lagi.
Masih belum selesai sampai di situ kemudahan yang kudapat. Bonus berhijab terus mengalir tatkala aku pun masih bisa melakukan hobi renangku dengan mudah. Pelajaran praktek renang untuk muslimah dipindahkan lokasinya menjadi lebih dekat dengan sekolah. Padahal sebelumnya, lokasinya jauh di luar kota. Justru sekarang jadi lebih mudah dibandingkan dulu.
Akhirnya aku merasa, pindah penampilan ini bak hijrahnya Rosulullah SAW dahulu. Awal prosesnya tidak mudah tapi menemukan kebahagian di akhirnya.
Aku menemukan ketenangan, keamanan dan kebahagian dengan penampilanku yang baru. Kawan lelaki mungkin segan, tapi aku anggap itu bukti kesopanan. Kawan wanita penasaran, aku anggap itu pujiannya. 
Ternyata hijrah tidak seseram yang kubayangkan. Kemudahan ini seperti jawaban Allah SWT bahwa jalanku adalah benar.
Kalau sekarang aku ditanya, apakah hidupku jadi lebih baik dengan berhijrah? Dengan tegas akan aku jawab IYA. 
Dan dengan ridhoNya pun sampai sekarang aku ingin terus berhijrah, demi hidup yang lebih baik.

InsyaAllah.

Tidak ada yang mustahil bila Dia berkehendak