Hati Berbunga-bunga di Taman Bunga

Ini sebenarnya adalah cerita lama. Namun menarik untuk diceritakan karena kenangannya masih lekat dalam ingatan.  
Musim dingin hampir usai, namun hawa dinginnya masih bersisa diselang dengan hangat matahari yang mulai nampak. Ini menandakan memang waktu yang sudah mulai bersahabat untuk berlibur. Demikian juga waktu yang bersahabat buat para eyang mengunjungi kami ke Aachen. Dinginnya tidak menusuk meski masih menyisakan hembusan angin yang tidak biasa buat kebanyakan orang dari benua asia. Sehingga kami tidak lupa mengingatkan para eyang tetap membawa serta pakaian hangatnya. 
Kami baru saja pindah ke Aachen tahun lalu. Momen berlibur ke tempat yang juga baru buat kami tentunya akan lebih seru kalau dilewatkan bersama para eyang. Selain itu, kami sangat bersukur, para eyang pun masih sehat dan dapat menempuh perjalanan jauh.
Sebelum para eyang datang, aku dan suami sudah menyiapkan initerary untuk sebulan jalan-jalan di Aachen dan sekitarnya. Harapannya initerary ini bisa mewakili Jerman dan Benua Eropa, pada umumnya.
Khusus untuk liburan, suamiku mengambil cuti dari kantor selama seminggu (kalau tak salah) waktu itu. Kami hendak berkeliling beberapa negara terdekat, Belanda dan Perancis.  Letak Aachen sendiri sudah berada di ujung Jerman bagian barat, berbatasan langsung dengan Belanda, Belgia dan Perancis. Jadi sangat memungkinkan untuk mengemudikan mobil sendiri asalkan sudah mengantongi SIM Jerman. Selain itu, meminjam mobil lebih hemat daripada menggunakan kendaraan umum lain untuk itungan keluarga besar macam kami. Plusnya lagi, pergi dengan mobil pun akan lebih fleksibel dengan barang bawaan. Dengan mobil van 9 tempat duduk, tidak hanya koper yang bisa kami bawa tapi juga rice cooker dan beberapa bahan makanan. Menghemat jajan dan makanan bisa sedikit sesuai selera.

Tempat peristirahatan sepanjang jalan tol Jerman-Perancis-Belanda jarang ditemui.
Jika ada hanya berupa coffee shop sederhana dan tempat makan di luar.
Kalau udara nyaman, membuka bekal di luar sangat menyenangkan.

Salah satu daerah tujuan wisata yang kami pilih waktu itu adalah Keukenhof, Belanda. Keukenhof menjadi spesial karena tidak buka sepanjang tahun. Dia buka di akhir musim dingin ke awal musim semi. Maklum saja, di bulan-bulan inilah bunga-bunga yang ditanam sedang mekar dengan cantiknya. Jadwal kedatangan para eyang pun sudah disesuaikan dengan jadwal buka taman bunga ini. Sengaja, karena kami tahu kalau para eyang senang berkebun.
Dan ternyata, tidak ada kata menyesal datang ke Keukenhof!
Berfoto sebelum masuk taman bunga

Keukenhof adalah sebuah taman bunga yang tertata sangat apik. Bunga-bunga berkelompok sesuai dengan warnanya. Ada yang tumbuh di luar dan ada yang dipelihara di dalam. Tulip sebagai ikon Negeri Belanda memang mendominasi, tapi masih ada bunga-bunga dan tanaman lain yang ternyata jika disandingkan dengan tulip, tidak kalah cantiknya.
Kami sebelumnya berpikir, "Palingan nanti foto-foto, doang, terus pulang!"





Ternyata salah besar!
Saking asiknya, mungkin lebih dari 5 jam kami menghabiskan waktu berputar di sana. waktu yang tidak sebentar jika dihabiskan untuk jalan di mall atau supermarket. Kami sibuk mengabadikan momen diantara bunga aneka warna. Beberapa turis asal Indonesia bisa dikenali dengan pegangan selfie stick di tangannya. Kalau kemudian bergerombol pasti semua akan senang memamerkan gigi dan say, "Cheese!"
Anak-anak pun menikmati bermain di antara bunga. Ada perasaan bisa bernapas plong ketika berada di sana. Mungkin memang benar adanya, udara di kota-kota besar sudahlah sumpek dan kotor karena asap kendaraan bermotor dan limbah pabrik.




Bukan hanya itu, kalau biasanya jalan ke warung berjarak 500 meter saja malasnya bukan main. Berjalan kaki mengitari taman seluas 32 hektar (kurang lebih 320ribu kilometer persegi) menjadi tidak terasa. Di setiap sudutnya penuh bunga dengan rangkaian berbeda dan selalunya mempesona. 
Di bagian dalam taman, ada bangunan rumah dengan kincir angin khas Belanda. Pengunjung bisa masuk hingga ke tingkat 2 dan berfoto sambil memandang lahan sekitar yang masih sangat lapang. Sejauh mata memandang adalah perkebunan bunga warna warni, yang aku pun tak hapal namanya satu per satu. Rumah dikelilingi oleh semacam danau. Di danau ada penyewaan perahu kecil untuk jalan-jalan mengitari taman di luar sesuai dengan rute danau.

Latar belakang kincir angin khas Belanda
MasyaAllah, nikmat Allah mana yang kamu dustakan?
Belum lengkap kalau pulang tanpa oleh-oleh. Di dekat rumah itu ada kios-kios suvenir. Turis bisa membeli oleh-oleh sepatu kayu khas Belanda, replika kincir angin atau tempelan kulkas bergambar bunga dengan tulisan Keukenhof.

Ada yang mau bawa pulang sepatu ini?

Sebenarnya kalau bicara taman bunga, Indonesia pun punya beberapa taman bunga serupa. Hal itu tentulah wajar karena wilayah Indonesia yang lebih luas dengan tanahnya yang subur. Jika dirawat dengan  baik, bunga dan tanaman di negeri sendiri malah bisa tumbuh sepanjang tahun. Namun kami pun baru mengetahui info taman bunga ini beberapa waktu lalu, setelah sekarang tinggal di Indonesia. 
Aneka Tulip

Terinspirasi oleh kunjungan ke Keukenhof ini, jadi ada keinginan mengenal bunga dan tanaman lokal.  Namun sayangnya, hampir semua taman-taman bunga yang terkenal di Indonesia dari hasil pencarian kami itu berada jauh dari Jakarta. Ada yang di Bandung, Kediri, Bali sampai Manado. 
"Jadi mikir dua kali karena jauhnya, nih?" pikir kami.
Tapi sekarang tempat jauh akan mudah terjangkau juga dengan menggunakan pesawat. Rute pesawat dari Jakarta ke daerah tujuan di atas sudah sangat banyak. Juga tak perlu kuatir lagi dengan yang katanya harga tiket mahal. Beli tiket pesawat murah sekarang ada tempatnya di Skycanner Indonesia. Skycanner adalah situs pencari tiket online yang bakal kasih kami pilihan tiket dari berbagai maskapai. Pilihannya lengkap dari yang mahal sampai tiket pesawat promo.


Masih belum lengkap?
Sekalian kami pun bisa booking hotel atau sewa mobil di situs yang sama.
Kalau dibandingin dengan keribetan bikin initerary dan urus sewa menyewa waktu mau liburan ke Keukenhof, menggunakan jasa Skyscanner bikin ribetnya jadi berkurang. 
Jadi tidak perlu ragu lagi buat liburan, kan? - lirik pak suami 😉