Sekolah Perempuan, awal kembali menulis

Saya sudah suka pelajaran mengarang sejak masih di SD dulu, terutama waktu saya bersekolah di SDN Banjarbaru Utara 2, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Saya ingat betul bahwa guru bahasa Indonesia waktu itu (lupa namanya hiks) pintar sekali menerangkan soal roman, puisi dan berbagai bentuk karya sastra. Selain itu, beliau juga sering menyuruh kami mengarang dan menulis indah. Urusan menulis indah, sih, saya nyerah. Ga tahu kenapa semakin lama menulis semakin huruf sambungnya miring ada yang besar dan kecil. Jelas sudah saya orangnya tidak sabaran, lho?!

Waktu kecil juga saya hobi banget bikin buku-buku klipingan. Segala yang menarik di gunting dan ditempel di satu buku tulis. Kalau penuh buku tulisnya digabung jadi beberapa buku dan jadi tebal. Bangga banget kalau itu buku semakin hari semakin tebal. Yang saya kliping bisa cerita pendek, teka teki sampai percakapan humor anak.

Saya juga pernah tuh, bikin buku cerita. Cerita lengkap dan detailnya lupa, tapi seperti biasa di tulis tangan di buku tulis.

Ah, sayangnya karena sempat berpindah-pindah waktu itu jadinya itu buku habis semua ga tau kemana.
Kegemaran menulis entah kenapa tak bisa terasah baik setelah masa ABG. Kebanyakan main kayanya. Paling banter ambil agenda Ibu di rumah dan ditulisin kegiatan sehari-hari. Rinci banget. Saking rincinya, sekarang jadi kepikiran bikin cerita dari itu diari (Horeee, ada ide baru :D)

Saking terlalu menikmati masa remaja-kuliah-kerja akhirnya saya benar-benar total tidak menulis. 

Tetapi, pernah suatu hari saat galau dan lagi curhat sambil  guyon ma sobat di kantor, saya bilang gini, "Kayanya seru nih, cerita gue dan dia dijadikan buku!" (ehm, ini cerita masa lalu yaks) 
Nah, ga kesampaian juga ni kegalauan jadi buah yang positif.

Sudah lama banget kan tidak menulis?!

Sampai suatu hari di bulan Mei 2014 lalu, saya melihat salah satu status teman di facebook mention sebuah nama, Indari Mastuti. Dia cerita tentang artikelnya yang masuk ke kompasiana. 

Di saat yang hampir sama, saya habis kedatangan ayah ibu dan mertua ke Aachen di bulan April-pertengahan Mei. Pas mereka datang, saya sangat sibuk jalan-jalan dan akhirnya ketika semua pulang malah punya waktu santai.

Nah, saat senggang nan iseng itulah saya intip profile beliau dan menemukan Sekolah Perempuan, sekolah menulis online yang beliau dan 3 orang temannya gawangi, Anna Farida, Ida Fauziah dan Julie Nava. Setelah tanya-tanya langsung ke beliau lewat facebok, jadwal yang matching dan metode kelas yang kebeneran sesuai dengan kemampuan saat itu akhirnya tanpa pikir panjang, saya ikut. 

Kelas dengan 12 modul "Kiat Tembus ke Penerbit" memberikan gambaran bagaimana menyusun naskah buku sampai selesai. Mereka memberikan pengarahan kemana minat kita, fiksi atau nonfiksi, dan mengembangkan ide kita itu, tanpa ikut campur dalam hal isi secara detail. Gambaran umum yang ditekankan mengenai isi, layaknya dosen pembimbing saat tugas akhir. 

Karena saya memilih fiksi, jadilah saya dipasangkan kepada mentor privat, Julie Nava. Mba Julie seorang mentor yang sabar, menunggu naskah saya kelar dan membacanya, belum lagi banyak bertanya saking barunya hehehe Beliaulah yang menjadi first-reader Love Fate pada akhirnya. 

Tidak hanya mentor dan materinya yang Ok, tapi juga saya akhirnya kenal dengan teman-teman yang punya minat sama dan sedang membangun mimpinya dari bawah seperti saya. Sampai saat ini, kami masih disatukan dalam satu grup alumni di Facebook dan masih mendapatkan gemblengan semangat untuk tetap menulis. Sst ... kalau saya perhatikan, banyak alumninya, saat ini sudah sampai 7 angkatan, yang sudah menorehkan prestasinya dimana-mana; ada yang menang lomba menulis, artikelnya masuk di majalah/koran, dan ada yang sudah menerbitkan buku baik fiksi dan nonfiksi.

 
Buku-buku karya alumni Sekolah Perempuan


Setelah lulus dari Sekolah Perempuan dan naskah pun sudah jadi, maka Sekolah Perempuan yang merupakan bagian dari Indsript Creative-lah yang kemudian meneruskan naskah saya ke penerbit. Saya menunggu 3 bulanan hingga akhirnya ternyata berjodoh dengan Elex Media Komputindo.

Sekarang, saya merupakan bagian dari keduanya, saya jadi punya banyak keluarga baru yang membantu untuk kesuksesan Love Fate. 

At the end, untuk sukses kita ga bisa sendiri-sendiri, banyak pihak yang akan kita perlukan dan bisa saling membantu dengan kita.

Flyer Sekolah Perempuan Gelombang 7-10

Nah, jadi kalau sekarang Kamu punya keinginan untuk menulis secara profesional dan belum tahu bagaimana dan kemana naskah Kamu harus berlabuh. Saya harap dengan tulisan di atas memberi gambaran baru buat Kamu. Saya memulainya dari Nol, sampai sekarang pun masih Nol. Saya masih harus banyak belajar dan mencari intipan ilmu dari mana pun, bisa jadi dari Kamu juga ;)