Mengapa Love Fate?

Ketika di sekolah perempuan, saya disuruh memilih jurusan naskah mana yang ingin diselesaikan pada tahap belajar kali ini. Pilihannya antara fiksi dan nonfiksi.
Nonfiksi lebih menjurus kepada hal-hal ilmiah dengan pembuktian dan literatur yang jelas sedangkan fiksi merupakan cerita berbasis khayalan sang penulis. 

Saya sempat menuliskan beberapa ide, namun semuanya lebih banyak didasari dari hasil merenung dan berkhayal. Meski ada separuh yang nyata terjadi namun tetap saya pikiran bisa melayang sampai jauh dan idenya boleh juga buat ditangkap jadi tulisan.

http://www.natashalester.com.au/2014/03/11/the-10-things-i-must-have-before-i-start-writing-a-new-book/

Akhirnya, saya yakin memilih salah satu ide cerita fiksi untuk ditulis sampai selesai 1 naskah selama masa belajar 3 bulan. Saya dan beberapa teman yang sealiran mendapatkan seorang mentor pembimbing, Mba Julie Nava. Beliau adalah penulis senior yang sekarang bermukim di Amerika dan ahli pula di bidang Personal Branding Strategis.

Ide awal cerita, sudah saya pastikan bertema pasangan suami istri yang belum memiliki anak. Kebetulan ide ini memang terinspirasi dari 2 wanita terdekat, sobat karib pada masa di Kuala Lumpur dulu dan kakak ipar. Selain itu, saya ingat tuh, hasil ngobrol-ngobrol saya dengan seorang kenalan notaris di tahun 2010 lalu. Kebetulan dia berasal dari tanah Batak. Beberapa aturan mengenai anak dan pernikahan sedikit lebih saklek dan khas. Sehingga saya pun tertarik mengangkatnya kedalam buku. Namun, saya tak punya cukup referensi mendalam sebenernya tentang adat batak. Misalnya saja saya bisa membayangkan gaya bicaranya, namun tetap saja masih merasa ada yang kurang karena jarang mendengar. Sempat juga saya minta bantuan teman yang orang Batak, namun akhirnya merasa lebih pede dengan setting tempat dan keadaan yang saya lebih paham.

Settingan itulah yang saya akhirnya pakai, latar belakang kuliah Tessa-Bhaskoro, tragedi Lumpur Lapindo, tuntunan perkawinan adat Jawa, dan contoh kasus kesehatan reproduksi yang dialami Tessa.
Tidak puas hanya tahu saja, tapi saya pun minta bantuan suami untuk menjelaskan mengenai tragedi Lumpur Lapindo sesuai ilmu geologi yang dia miliki dan dr. Vicky, kawan semasa SMA yang dengan rendah hatinya mau berbagi cerita mengenai kasus infertility dari sudut kedokteran.

Khusus untuk urutan prosesi adat Jawa memang saya beberapa kali melihat dari perkawinan saudara-saudara di pihak suami yang memang berasal dari sana. Hal-hal menarik bisa di ceritakan seperti prosesi Bubak Kawah, saudara laki-laki manten berjalan bak pedagang memanggul alat-alat dapur untuk kemudian diperebutkan oleh ibu-ibu atau remaja putri yang hadir. Kalau lihat prosesi sebenarnya memang sangat seru dan "ganas" hehehe Bayangkan saja, ada barang gratisan, siapa yang tidak mau mengambilnya paling dahulu.

Selanjutnya dengan berbagai referensi dan narasumber yang sedemikian komplit pun saya menulis. Kejar tayang menyesuaikan jadwal pekerjaan domestik rumah tangga dan jadwal berakhirnya sekolah. Sempat sekolah terputus karena libur puasa dan lebaran. Saya juga berlibur ke Indonesia. Disangka dengan liburan akan sangat giat menulis, namun sebaliknya, agenda main dan liburan menyita sebagian besar waktu, sehingga tetap saja kejar tayang di akhir masa sekolah (bukan contoh yang baik :p).

https://www.pinterest.com/pin/244179611023747837/

Selama waktu itu, mba Julie Nava adalah pembaca setia saya, beliau tidak mempermasalahkan EYD di awal. Beliau selalu menyemangati agar naskahnya sesuai dengan yang jadwal, tak usah pusing EYD, tulis apa saja yang ada di pikiran, toh, pada akhirnya akan ada editing. Meski nanti di edit pun masih harus giat, karena prosesnya menjadi sebuah buku masih sangat panjang. Namun, saya bersukur karena tanggapannya terhadap Love Fate memang sangat positif.

Setelah Love Fate selesai, akhirnya mereka menawarkan pada penerbit sampai kemudian berjodoh dengan Elex Media Komputindo. Saya harus bersabar selama beberapa waktu menunggu kabar baik itu. 

Setelah sampai di penerbit pun, dilakukan editing, layouting dan membuat cover. Yang paling tricky mungkin adalah pemilihan judul yang beberapa kali sempat ingin direvisi. Namun kembali ke Love Fate yang paling pas merangkum maksud dan kayanya komersil heheheh

Saya bersukur dan kaget juga karena saya tidak menunggu terlalu lama untuk bisa melihat buku saya terbit akhirnya terbit 30 Maret 2015 lalu.