Love Fate

Tema yang diangkat dalam novel perdana saya ini sebenarnya simple, yaitu seorang wanita yang sudah lama berumah tangga dan tidak memiliki anak. Dia bernama Tessa Febriana Sasmita, asal Bandung, supel, pintar dan sukses dalam karir. Dia bersuamikan Bhaskoro Dipa, asal Malang, pintar, penurut, penyayang dan lahir dengan latar belakang budaya Jawa yang kental.

Tessa dan Mas Bhas diceritakan adalah pasangan mapan dalam karirnya masing-masing. Saking mapannya, aka. sibuknya, maka mereka tak pernah membicarakan tentang buah hati yang belum mereka dapat. Dengan mengambil sudut pandang Tessa sebagai pencerita, maka setelah suatu peristiwa menyadarkannya bahwa dia merasa bahwa ada yang kurang dalam perkawinannya.

Namun sayangnya Tessa tak menganggap Bhaskoro punya perasaan sama dengannya. Misalnya saja, keinginan Tessa untuk berobat ke dokter kandungan ditanggapi dingin oleh Mas Bhas, keinginannya adopsi anak, apalagi tidak digubris sama sekali. Beberapa fakta mengenai reproduksi seksual wanita pun diceritakan berdasarkan pengalaman nyata. 

Kemudian ada pula Mba Kanti, seorang office girl yang sedang hamil anak kelima. Bukan main tak habis pikir Tessa, bagaimana mungkin seorang yang secara ekonominya pas-pasan, bahkan sering morat-marit bisa diberikan kepercayaan begitu banyak anak oleh Tuhan. Sedangkan, dia sebaliknya. akan bisa bersangkutan dengan Tessa.

Ada Esme Fahmida, teman semasa kuliah dulu. Esme bersuamikan Gunar, seorang geologist dari universitas yang sama. Ada satu bab yang tentang peristiwa Lumpur Lapindo yang saya kemas dalam bentuk cerita antara keempat tokoh ini, Gunar, Esme, Tessa dan Mas Bhas. Esme punya masalah yang sama dengan Tessa. Karena merasa senasib, mereka menjadi dekat dan membuat kisah mereka sendiri.

Tokoh Antagonis adalah Ibu Murti, mertua Tessa. Orangnya to the point alias sangat jujur dan sinis sehingga kerap kali komentarnya terdengar sadis buat Tessa. Terutama karena Tessa saat ini masih sibuk dengan karirnya, yang dianggap menjadi penyebab belum diperolehnya cucu dari Bhaskoro.

Keluarga Mas Bhas yang lainnya tidak sama dengan Ibu Murti. Ada Indah, adik Mas Bhas, yang sangat dekat dengan Tessa. Meski baru menikah, Indah sudah hamil duluan.  Kehamilan Indah memancing komentar dari mertuanya itu,

Sing nda salah Ibu kasih nama Indah Jinawi. Kalian tahu nda artinya? Indah sing Subur :D[1]


Begitulah komentar Ibu Murti, jujur tapi pedas.

Tokoh yang tak kalah penting adalah Ambu, ibu Tessa. Seorang janda yang sabar dan penuh kelembutan dengan Tessa. Dia selalu menjadi tempat berpulang nomer 1 buat Tessa.

Dengan berbagai konfliknya, naik turun perasaan Tessa saya menyerahkan pembaca untuk menarik kesimpulan seberapa bahagia atau sedihkan kisah ini. Karena ukuran kebahagiaan tiap-tiap orang berbeda :)


Sebagai penulis baru, saya menuliskan Love Fate dengan sangat jujur dan tanpa beban. Targetnya benar-benar menyelesaikan 1 naskah yang siap jadi buku, enak dibaca dan alurnya tak membingungkan. 

Karena saya mempunyai narasumber yang memang memiliki pengalaman pribadi secara kasus kedokterannya, kenal dengan baik dengan saya, saya lihat bagaimana mereka berjuang demi seorang anak yang diharap, maka saya tahu persis bahwa perlu kerja sama dan ikhtiar yang tak terputus antara 2 orang, suami dan istri. Dan apa yang terjadi kalau hal itu tidak terjadi?

Disitulah saya khayalkan diri saya sebagai Tessa, seandainya saya berada di posisinya. Seandainya peluang untuk memiliki anak tidaklah sebesar orang lain, namun tekanan keluarga dan sekitar terus menghimpit. 

Saya pernah suatu hari bertanya pada editor saya, "Mengapa Mba mau menerbitkan Love Fate?"
Beliau menjawab, "Karena suka dengan konfliknya."

Dengan berbagai konfliknya, naik turun perasaan Tessa pun saya rasakan pada saat menulisnya. Ibarat kata, kalau Kamu sebagai pembaca bahagia, marah dan resah maka perasaan itulah yang pernah juga menghinggapi saya saat menulis kisah Tessa. 

Apakah Kamu pun demikian? Hanya bisa terjawab setelah Kamu membacanya ;)

Terakhir, saya menyerahkan pembaca untuk menarik kesimpulan seberapa bahagia atau sedihkan kisah ini. Karena menurut saya, ukuran kebahagiaan tiap-tiap orang berbeda :)



[1] Tak salah Ibu memberi nama Indah Jinawi. Kalian tahu tidak artinya? Indah yang subur :D